MD.COM, Semarang – Prospek ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, terutama ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan pangan global. Konflik antara Rusia dan Barat, yang berlarut-larut, dapat menyebabkan disrupsi besar dalam pasar energi, terutama minyak dan gas.
Negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Rusia kemungkinan akan berupaya mendiversifikasi sumber energi, dengan fokus pada energi terbarukan. Hal ini dapat memicu volatilitas harga yang tinggi dan fluktuatif di pasar global.
Ketidakharmonisan hubungan antara Rusia dan negara-negara Barat berpotensi menambah ketidakpastian (uncertainty) dalam perdagangan dan investasi global. Selain itu, dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19 masih terasa, terutama dalam bentuk inflasi global yang tinggi dan gangguan pada rantai pasok. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang, yang pada gilirannya memperlambat pemulihan ekonomi dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah perubahan ini, digitalisasi menjadi tantangan besar bagi negara-negara maju maupun berkembang. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Sri Tuti Rahayu, seorang pengamat ekonomi maritim dan Guru Besar di Politeknik Maritim Indonesia (Polimarin) Semarang, dalam wawancara dengan Maritimdaily.com, pada 31 Desember 2024 melalui pesan elektronik.
Menurut Prof. Sri Tuti, proyeksi dari International Monetary Fund (IMF) untuk pertumbuhan ekonomi global hingga 2025 berkisar antara 3-4%. Namun, ia mengkhawatirkan pemulihan ekonomi negara-negara maju akan berjalan lambat, terutama karena tingginya inflasi dan kebijakan suku bunga yang ketat.
Di sisi lain, negara-negara berkembang, terutama di Asia Tenggara dan Afrika, diperkirakan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, asalkan mereka mampu menjaga stabilitas harga melalui kebijakan yang tepat.
Sebagai langkah antisipasi, Prof. Sri Tuti menekankan pentingnya inovasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menyarankan pengembangan energi hijau, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi-teknologi lainnya sebagai bagian dari upaya untuk mempercepat pemulihan dan menciptakan peluang ekonomi di masa depan.
Sebagai Ketua DPD PRAMARIN Jawa Tengah, ia juga menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung sektor maritim untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.






