Buruh Harian Lepas Dilarang Masuk Kerja, “Salah Kami Apa?”

- Redaksi

Selasa, 17 Juni 2025 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CILEGON, MD.Com – Puluhan buruh harian lepas dan outsourcing di PT Bungasari Flour Mills, Kota Cilegon, Banten, harus menelan kenyataan pahit: mereka tidak diperbolehkan masuk bekerja oleh sejumlah anggota serikat pekerja dari SPKEP Bungasari.

Insiden ini terjadi di tengah memanasnya situasi hubungan industrial antara buruh tetap dan manajemen, yang berujung pada aksi mogok kerja sebagian karyawan tetap.

Pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIB, para buruh harian berkumpul di depan gerbang pabrik. Sebagian membawa spanduk bertuliskan dukungan terhadap keberlangsungan pabrik dan tokoh masyarakat setempat, Haji Hikmatullah. Namun, bukan hanya itu yang mereka suarakan—mereka juga mempertanyakan alasan di balik larangan bekerja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami ini cuma buruh harian. Kerja kalau dipanggil, dibayar kalau masuk. Tapi tiba-tiba dilarang masuk. Salah kami apa?” ujar Latif, seorang pekerja harian lepas, dengan mata berkaca-kaca.

Menurut keterangan beberapa buruh, larangan tersebut bukan datang dari manajemen, melainkan dari sejumlah anggota serikat yang tengah melakukan aksi. Mereka berdiri di pintu masuk dan mencegah buruh harian serta outsourcing untuk masuk bekerja.

Ketimpangan Solidaritas

Situasi ini menimbulkan kegelisahan di kalangan buruh non-serikat. Mereka merasa terjebak di tengah konflik yang tidak mereka pahami sepenuhnya.

Baca Juga :  Buruh Bungasari Demo, Subkontraktor Terseret Dampaknya: "Kami Hanya Pekerja Bayangan"

“Kami tidak ikut aksi, karena kami tidak tahu menahu soal tuntutannya. Tapi sekarang kami juga yang terdampak,” kata Sari, buruh perempuan bagian pengemasan.

Sebagian buruh bahkan sempat bertanya langsung kepada anggota serikat yang menghadang, namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Mereka mengaku kecewa karena solidaritas yang semestinya dibangun di antara sesama pekerja justru berbalik menjadi tekanan sosial.

Dukungan untuk Haji Hikmatullah

Dalam aksi damai yang digelar di depan pabrik, para buruh harian lepas dan outsourcing juga menyampaikan dukungan kepada Haji Hikmatullah, anggota DPRD Kota Cilegon. Mereka menilai Hikmatullah adalah satu dari sedikit tokoh yang benar-benar hadir mendengar keluhan mereka.

“Beliau yang memfasilitasi kami agar bisa kembali bekerja dengan tenang, tanpa tekanan,” ujar Mansur, perwakilan dari PT Tri Daya, perusahaan outsourcing yang bermitra dengan Bungasari.

Ia menyayangkan aksi mogok yang dilakukan sebagian karyawan tetap, karena menurutnya justru berdampak langsung pada buruh harian dan outsourcing. “Kami ini bukan karyawan tetap. Kalau tidak kerja, ya tidak ada pemasukan,” ujarnya.

Menyesal dan Ingin Kembali Bekerja

Sementara itu, sejumlah buruh yang sempat ikut aksi mogok akhirnya memutuskan kembali bekerja. Salah satunya adalah Hamsori, yang mengaku ikut aksi karena terbawa suasana.

Baca Juga :  Zia Ulhaq; Jam Tangan, Mobil Mogok, dan Masa Depan HIPPI

“Saya ikut-ikutan, tapi sekarang sadar. Nyari kerja susah. Alhamdulillah saya masih dikasih kesempatan masuk lagi,” ujarnya lirih.

Hal senada juga disampaikan Adi C, buruh bagian maintenance. “Kita ini rakyat kecil, harus realistis. Yang penting keluarga bisa makan,” ucapnya.

Sedangkan Damara, buruh bagian produksi yang sempat aktif dalam aksi, mengaku menyesal karena mendahulukan ego.

“Saya punya anak, istri, dan orang tua. Saya takut kehilangan pekerjaan, apalagi sekarang cari kerja itu sangat sulit,” katanya.

Harapan untuk Dialog dan Keadilan

Kisruh yang terjadi di PT Bungasari mencerminkan rapuhnya komunikasi industrial yang belum inklusif. Buruh harian dan outsourcing, yang kerap berada di lapisan paling bawah, sering menjadi korban konflik yang tidak mereka mulai.

Dalam situasi ini, banyak dari mereka hanya bisa berharap satu hal: kesempatan untuk bekerja kembali tanpa intimidasi dan tanpa diskriminasi.

“Kami cuma ingin bekerja, itu saja. Kalau ada masalah antara manajemen dan serikat, tolong jangan libatkan kami yang hanya mencari nafkah,” ujar seorang buruh harian sambil menunduk.

(Rizki/Red)

Berita Terkait

Buruh Bungasari Demo, Subkontraktor Terseret Dampaknya: “Kami Hanya Pekerja Bayangan”
Zia Ulhaq; Jam Tangan, Mobil Mogok, dan Masa Depan HIPPI
Berita ini 657 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Juni 2025 - 10:16 WIB

Buruh Harian Lepas Dilarang Masuk Kerja, “Salah Kami Apa?”

Rabu, 11 Juni 2025 - 12:06 WIB

Buruh Bungasari Demo, Subkontraktor Terseret Dampaknya: “Kami Hanya Pekerja Bayangan”

Kamis, 1 Mei 2025 - 09:03 WIB

Zia Ulhaq; Jam Tangan, Mobil Mogok, dan Masa Depan HIPPI

Berita Terbaru